Berita Terbaru – Bila kebanyakan orang di dunia ini hidup secara sama dengan orang Jerman biasanya, kita akan memerlukan hampir tiga buah planet bumi. Tetapi bila bergaya hidup seperti orang Amerika, kita juga jadi perlu lima bumi untuk dapat hidup. Demikian menurut penghitungan Global Footprint Network. Bagaimana bila orang mulai pilih hidup dengan punya lebih sedikit barang – dengan begitu bermakna lebih sedikit berlaku konsumtif. Apa cukup kita hidup dengan cuma satu bumi? Di tempat tinggalnya, blogger serta podcaster pola hidup minimalis Elisa Stangl tidak memiliki sofa atau serta tempat tidur.

Ayo Mulailah Hidup Dengan Minimalis Agar Bumi Terselamatkan

Ia, suaminya, serta anak wanita mereka yang berumur 2 tahun tidur di atas tikar tatami Jepang di apartemen kecil mereka di wilayah Jerman selatan. “Kami tidak memiliki banyak barang,” tuturnya pada DW. Stangl mengambil pola hidup minimalis pada saat masih mahasiswa. Waktu itu faktanya lebih berkaitan permasalahan keuangan dibanding lingkungan. Tetapi sesudah lulus serta berkeliling-keliling dunia, Stangl makin percaya jika dianya lebih baik hidup dengan cuma sedikit barang.

Saat ini, Stangl menjelaskan motivasi intinya ialah hidup dengan penuh kesadaran.

Dengan memiliki lebih sedikit barang, bermakna ia serta keluarganya dapat konsentrasi pada hal yang perlu. Mereka perlu lebih sedikit uang, serta karenanya dapat punya lebih banyaknya waktu untuk lakukan hoby seperti berjalan kaki serta menelusuri alam. Stangl yakin jika pola hidup minimalis salah satu langkah dia bertanggungjawab pada lingkungan. “Jalani kehidupan yang penuh kesadaran bukan sekedar berkaitan permasalahan individu,” tuturnya. “Bila Anda ketahui langkah hidup dengan penuh kesadaran, karena itu Anda ketahui jika Anda harus menghargai alam, sebab Anda hidup dengan alam yang sudah memberikan suatu hal, karena itu Anda juga harus memberi suatu hal (pada alam).”

Hidup minimalis untuk kenikmatan pribadi
Dipopulerkan oleh pakar berbenah asal Jepang, Marie Kondo, beberapa waktu terakhir sudah ada pola hidup minimalis yang bekaitan dengan inspirasi untuk bikin hidup bertambah berarti. Tetapi sebagian besar website, vlog serta podcast yang mengangkat pola hidup minimalis lebih mengutamakan pada keuntungan pribadi dibanding keuntungan pola hidup ini buat lingkungan.

Ini tercermin dalam riset oleh Duke University di Amerika Serikat (AS). “Umumnya, orang mengambil minimalis untuk kebutuhan kesejahteraan psikologis mereka sendiri – untuk kurangi depresi serta menumbuhkan kejernihan mental, contohnya,” kata ketua periset studi itu, Aimee Chabot, pada DW. Tetapi seiring berjalannya waktu, motivasi beberapa individu dalam mengaplikasikan langkah hidup minimalis lebih meluas serta merambah pada hal di luar diri mereka seperti permasalahan lingkungan atau norma.

Konsumsi yang tidak berkelanjutan
Satu studi tahun 2015 temukan jika lebih dari 60 % emisi gas rumah kaca global dikarenakan oleh mengonsumsi rumah tangga. Ini intinya karena pekerjaan transportasi serta produksi makanan, beberapa produk lain yang membuahkan emisi karbon dalam proses produksinya. Mengonsumsi rumah tangga tentunya tambah tinggi banyaknya di beberapa negara kaya.

Saat ekonomi di penjuru dunia bertumbuh, mengonsumsi berkembang. Makin beberapa orang yang punya uang untuk dibelanjakan, makin banyak barang yang mereka beli. Hal yang membuat manusia bahagia tidak selalu berbentuk kebendaan serta konsumtif. Namun pekerjaan konsumtif ini tidak selamanya membuat orang jadi bahagia. Seperti yang diperlihatkan oleh riset, penghasilan yang tambah tinggi serta daya beli yang semakin besar cuma dapat tingkatkan kesejahteraan sampai batas khusus.

Bahagia berarti hasilkan emisi rendah
Dalam buku yang keluar tahun 2014 berjudul Happier People Healthier Planet, akademisi Teresa Belton memiliki pendapat jika beberapa faktor yang menggerakkan kesejahteraan manusia sebetulnya punya efek yang benar-benar kecil pada lingkungan. “Beberapa hal yang membuahkan serta melanggengkan kesejahteraan ialah segalanya yang saya ucap jadi ‘aset nonmaterial,'” tutur Belton pada DW. “Jalinan yang baik, kontak dengan alam.

Jadi kreatif, punya rasa jadi sisi dari komune serta punya arah serta arti, dengan aktif terjebak dalam kehidupan serta beberapa hal yang lain, yang tidak – atau amat sedikit – menyertakan mengonsumsi kebendaan.” Belton wawancarai lebih dari 100 orang di Inggris yang sudah pilih untuk hidup dengan lebih sedikit konsumsi beberapa benda.

Tidak sama dengan beberapa periset Kampus Duke di AS, dia temukan jika permasalahan lingkungan ialah motivasi paling biasa yang menggerakkan orang. “Bila kita jadi individu serta warga mengutamakan kesejahteraan dengan fokus pada beberapa hal yang betul-betul memberi dukungan kesejahteraan, bukannya cari keuntungan materi serta mengonsumsi material yang ujungnya ialah membuahkan laba, dunia bisa menjadi tempat yang tambah lebih baik dalam segalanya,” tutur Belton.

admin Berita Terbaru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *